SUDAHKAH KITA MENGENAL

SUDDEN DEAFNESS.. ??

Dr. Linda Herliana, Sp. THT-KL, M.Kes

 

 

Menikmati indahnya suara burung dan menikmati musik  di pagi hari merupakan hal yang sangat menenangkan dan menyenangkan bagi manusia. Mendengarkan sirene ambulan, polisi ataupun alarm kebakaran pun merupakan hal yang penting untuk dapat meningkatkan kewaspadaan kita. Lalu, bagaimana jika kita tiba tiba tidak dapat mendengarkan suara musik dan burung? Atau bahkan terjadinya bahaya yang mengancam karena kita tidak dapat mendengar suatu alarm kebakaran.

Sadarkah kita jika itu semua bisa terjadi tiba – tiba? Ya, kita bisa mengalami tuli mendadak kapan saja. Lalu apa itu tuli mendadak? Berbahayakah?

Masih belum banyak masyarakat yang mengetahui adanya ancaman dan bahaya dari tuli mendadak. Tidak seperti serangan jantung mendadak yang mengancam jiwa, tuli mendadak memang tidak menyebabkan kematian, namun dapat menyebabkan kecacatan yang permanen, yang  mempengaruhi kualitas hidup seseorang.

Apakah tuli mendadak atau Sudden Sensorineural Hearing Loss atau juga sering disebut sudden deafness itu?

Tuli mendadak adalah suatu keadaan kegawat daruratan di bidang THT otologi, dimana terjadi kehilangan fungsi pendengaran yang penyebabnya pastinya belum diketahui dengan jelas. Tuli mendadak ini umumnya unilateral atau terjadi pada satu telinga saja. Meskipun bisa saja terjadi pada kedua telinga.

Menurut teori Stachler dijelaskan bahwa tuli mendadak didefinisikan sebagai bentuk sensasi subjektif kehilangan pendengaran sensorineural pada satu atau kedua telinga yang berlangsung secara cepat dalam periode 72 jam, dengan kriteria audiometri berupa penurunan pendengaran ≥30 dB, terjadi sekurang-kurangnya pada 3 frekuensi berturut-turut, yang menunjukkan adanya abnormalitas pada koklea, saraf auditorik, ataupun pusat persepsi dan pengolahan impuls pada korteks auditorik di otak.

Angka kejadian tuli mendadak ini memang cenderung tidak banyak. Terdapat sekitar 127 kasus tuli mendadak pada tahun 2005 sampai dengan tahun 2009 di RSUD Dr.Soetomo Surabaya.

Adanya keluhan kehilangan pendengaran tiba-tiba inilah  yang seringkali membawa seseorang datang ke dokter untuk mendapatkan perawatan. Namun masih banyak juga mereka yang tidak memperhatikan gejala ini. Umumnya penderita yang hanya mengalami kehilangan pendengaran pada salah satu sisi telinga saja dan karena merasa telinga yang sehat masih bisa berfungsi, terlambat datang ke dokter untuk dilakukan pemeriksaan lebih lanjut. Yang berakibat jika keluhan berlangsung lebih dari 72 jam, maka pengobatan yang dilakukan akan memiliki hasil yang sangat berbeda dibandingkan dengan penurunan pendengaran mendadak yang segera terdiagnosa.

 

Pemeriksaan pada penderita dengan keluhan tuli mendadak ini dilakukan secara komprehensif. Dimulai pemeriksaan Audiometri, cek laboratorium, CT Scan kepala bahkan jika diperlukan pemeriksaan MRI. Selanjutnya disarankan untuk dilakukan perawatan di Rumah Sakit. Dan hal inilah yang harus diketahui oleh masyarakat tentang pentingnya perawatan tersebut.

Meskipun penyebab dari tuli mendadak ini belum diketahui jelas tetapi beberapa ahli menyebutkan bahwa salah satu penyebab dari tuli mendadak ini adalah terjadinya kelainan retrokoklea yang berhubungan dengan  vestibular schwannoma, penyakit demielinisasi, ataupun  stroke. Sekitar 10-15% kasus lainnya dapat disebabkan oleh penyakit Meniere, trauma, penyakit autoimun, sifilis, penyakit Lyme, atau adanya fistula perilimfe.

Dalam jurnal Arslan disebutkan terdapat empat teori utama yang dapat menjelaskan penyebab tuli mendadak, yakni infeksi virus, kelainan vaskular, kerusakan membran intrakoklea, dan kelainan imunologi. Sehingga pemeriksaan yang lengkap dan komprehensif pada kasus ini sangat diperlukan.

Penatalaksanaan pada tuli mendadak ini meliputi pemberian oksigenasi yang adekuat, terapi anti inflamasi, vitamin neurotropik dan total tirah baring.

Pemberian oksigenasi ini bertujuan untuk memberikan tekanan positif pada perilimfe yang sebelumnya mengalami penurunan tekanan oksigen dan menyebabkan anoksia. Dimana anoksia ini yang menyebabkan kerusakan neuroepitelium sensori dan dianulir menjadi salah satu penyebab terjadinya tuli mendadak. Terapi hiperbarik juga tak kalah dianjurkan dengan adanya prinsip pengobatan ini. Namun pada Rumah Sakit yang tidak memiliki layanan hiperbarik, pemberian oksigen melalui kanul sangat di anjurkan.

 

Berbagai penelitian lain mengenai penggunaan kortikosteroid pada pasien tuli mendadak telah dipublikasikan. Terdapat beberapa bukti laboratorium yang menunjukkan adanya inflamasi kematian sel pada pasien tuli mendadak, sehingga pada penatalaksanaannya dimodifikasi dengan pemberian terapi steroid. Kortikosteroid yang diberikan adalah glukokortikoid sintetik oral, intravena, dan/atau intratimpani, meliputi prednison, metilprednisolon, dan deksametason. Kortikosteroid diperkirakan memiliki efek anti inflamasi dan kemampuan dalam meningkatkan aliran darah koklea.

Beberapa faktor yang dapat mempegaruhi hasil pengobatan pada terapi tuli mendadak ini diantaranya usia, derajat gangguan pendengaran, saat memulai pengobatan, metode pengobatan yang digunakan dan ada tidaknya gejala yang memperberat lainnya. Pada usia lanjut, gangguan pendengaran yang terjadi sangat berat, dan dengan adanya gejala vestibular subjektif dapat dikaitkan dengan rendahnya angka tingkat kesembuhan. Dengan kata lain usia lanjut, hipertensi, diabetes, dan hiperlipidemia berkaitan dengan disfungsi mikrovaskuler di koklea, merupakan factor yang dapat memperburuk tingkat kesembuhan.

Penatalaksanaan terapi pada tuli mendadak ini kurang lebih selama 2 minggu. Setelah perawatan di Rumah Sakit selama 1 minggu, dilanjutkan evaluasi pendengaran dengan Audiometri yang dilakukan secara berkala. Kecenderungan angka keberhasilan pengobatan ini cukup tinggi, meskipun dengan berbagai faktor tersebut di atas. Terutama waktu dimulainya pengobatan, dimana 72 jam pertama adalah waktu yang paling baik.

Jadi, mulai sekarang dengan mengatahui tentang tuli mendadak ini diharapkan akan adanya kesadaran dini untuk segera membawa penderita ke rumah sakit untuk mendapatkan perawatan. Jika pernah ada istilah “Better Deaf than Dead” mulai sekarang, lebih pedulilah indera yang bisa membawa kita menuju ketenangan dan kebahagiaan dengan “Listen dan Smile”.